ideskoro

Just another WordPress.com site

Kutitip Surat Ini Untukmu

Aku satu-satunya anak laki-laki di antara empat saudara perempuanku. Tidak aneh bila semenjak kecil ibu melimpahkan perhatian dan kasih sayangnya kepadaku, guna menghiburku atas kepergian ayah. Beliau meninggal beberapa tahun setelah aku lahir. Ketika itu, usia ibu belum genap dua puluh lima tahun, tetapi ia menolak setiap tawaran menikah, agar bisa lebih konsentrasi mengurusku dan keempat saudara perempuanku. Ia memohon maaf kepada seluruh kerabatnya, bahwa ia telah memberikan hidupnya untuk mendidik anak-anaknya. Ia tidak ingin membina rumah tangga lagi, karena tidak ingin menelantarkan kami.
Untuk membiayai kami, ibu bergantung kepada gaji (dana pensiun) ayah yang tidak seberapa, disamping santunan kecil yang diterima dari keluarganya. Meski demikian, ia begitu gigih mengatur pengeluaran, sampai-sampai kami tidak merasa kekurangan apapun di banding anak-anak yatim yang lain.
Akhirnya, keempat saudara perempuanku menikah, menyisakan aku sendiri bersama ibu yang mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya untukku.
Ketika aku tumbuh menjadi pemuda dewasa, iu memintaku untuk menikah, agar ia bisa melihat ank-anakku tumbuh dan turut bergembira mendidik mereka, seperti yang selalu diidamkan semua nenek.
Awalnya aku menolak permintaan ini. Aku khawatir kehidupanku akan disibukkan oleh kehadiran perempuan lain yang hanya akan mengambil porsi perhatianku yang tercurah sepenuhnya untuk mengurus ibu. Tetapi atas desakan ibu, akhirnya aku menerima permintaannya meski dengan hati segan.
Aku meminta ibu untuk memilihkan pendamping hidup yang sesuai, yang bisa nyaman bersamanya dan bersedia tinggal bersamanya, sehingga aku tidak perlu berpisah dengannya selamanya.
Pada saat itu, aku dikejutkan oleh kehadiran saudaraku bersama dua orang anaknya, ia ingin tinggal kembali bersama ibu setelah diceraikan oleh suaminya. Dengan demikian, bertambah lagi beban materi yang dipikul ibu, betatpapun telah aku berikan gajiku yang tidak seberapa untuk menutupi kebutuhan rumah.
Aku mengira ibu akan menunda rencana pernikahanku samapai kondisi keuangan membaik. Ternyata, ibu tetap bersikukuh agar aku segera menikah, sehingga aku bisa mengecap kebahagiaan.
Ibu berata bahwa ia mengetahui bagaimana mengatur pengeluaran yang tidak terduga untuk ketiga anak saudara perempuanku. Sebagaimana yang dulu pernah ia lakukan untuk kami dengan gaji ayah yang tidak seberapa.
Dan benar, ibu memilih salah seorang kerabat perempuan untuk menjadi istriku. Aku kagum dengan pilihan ibu sehingga membuatku lebih mantap untuk naik ke jenjang pernikahan, dengan satu syarat yang aku ajukan ke pihak keluarga calon istri agar ia tinggal bersama ibu.
***
Setelah beberapa bulan menikah, terjadi pertengkaran kecil antara istriku dengan saudara perempuanku. Disebabkan hubungan perasaanku dengan istriku, aku selalu berada dipihaknya, dengan tetap berusaha menjaga perasaan saudara perepuanku. Namun, kemudian suatu ketika aku terkejut, ternyata istriku bersitegang dengan ibu setelah usia pernikahan kamu hampir satu tahun. Dengan cara yang lembut aku berhasil menyadarkan keduanya bahwa masing-masing dari keduanya memiliki kesalahan. Begitulah, masalah tersebut berlalu tanpa menyisakan ganjalan dihati.
Setelah pernikahan berjalan berjalan tiga tahun dan istriku telah memberiku dua orang anak, berbagai permasalahan didalam rumah mulai membesar, dimulai dari keinginan istri untuk mendapakan porsi lebih besar dari rumah ibu. Dan hal ini menyulut kemarahan ibu, kakak perempuan dan kedua anaknya, yang akhirnya menjadi sebab pertengkaran panjang yang tidak kuasa aku reda kecuali dengan menuruti desakan istri untuk mengontrak rumah sendiri.
Dan benar setelah sekian lama didera keraguan aku setuju dan memutuskan untuk mengontrak rumah sendiri, satu keputusan yang menyulut kemarahan ibu, sampai-sampai ia tidak henti-hentinya menangis selama dua hari menjelang kepergianku.
Tidak ada yang bisa menghentkan derai air matanya kecuali janjiku untuk selalu mengunjunginya setiap minggu dan tetap memberi bantuan keuangan seperti selama ini aku lakukan.
Aku benar-benar menepati janjiku di empat bulan pertama semenjak kepergianku. Kemudian kunjunganku mulai berkurang seiring kesibukan kerja, kebutuhan rumah tangga dan dikarenakan anggapan istriku bahwa kunjungan itu terlalu sering. Tidak ada yang dapat aku lakukan kecuali merubah waktu kunjungan kepada ibu menjadi bulanan. Guna menutup celah bagi perselisihan baru di rumah tangga kami.
Ibu tidak banyak komentar mengenai perkara ini. Ia mengambil bantuan itu dengan lapang dada dan mendoakan kebaikan untukku.
Beberapa bulan berlalu dengan kondisi demikian, sampai akhirnya gaji bulananku hanya cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga bahkan tergolong kurang. Aku pun selama beberapa bulan menahan diri unutk mengunjungi ibu, sebab tidak ada sepeser pun uang yang bisa aku berikan kepadanya sebagaimana yang dulu aku lakukan dengan rutin.
Tidak ada yang bisa ibu lakukan kecuali dating sendiri kerumaku gun memastikan bahwa aku masih dalam keadaan sehat. Dari kunjungan ini ibu merasakan kemewahan hidup yang dijalani istri dan anak-anakku. Sedangkan di waktu yang sama ia tidak mampu memenuhi kebutuhan cucu-cucunya dari pihak kakakku. Sebagai akibatnya ibu jatuh sakit setelah kepulangannya dari rumahku.
Meskipun kakak menelponku agar aku mau mengunjungi ibu, tetapi istri mengisyaratkan untuk tidak pergi dengan alas an ibu hanya berpura-pura sakit karena mengharapkan tambahan uang dariku, dimana menurutnya uang itu hanya wajib aku belanjakan untuk keperluan rumahku sendiri. Begitulah, bebrapa minggu berlalu dan aku tetap tidak pergi mengunjungi ibu yang sedang sakit.
***
Suatu hari, aku dikejutkan dengan ucapan kakak ditelpon disertai isak tangis, mengabarkan bahwa ibu telah dijemput ajal, dan yang menjadi keinginan terakhirnya adalah melihat diriku
Semenjak itu, aku hanya bisa berdiam diri dirmah dn memutar kembali ingatanku di masa lampau, yang hanya akan membuatku menangis tesedu-sedu mengingat kelalaianku terhadap ibu yang penuh cinta kasih, yang selalu memenuhi segala kebutuhanku sepanjang hidup.
Penghianatan dan pengingkaran ini semata-mata berasal dari pihakku sendiri. Setiap kali au megingat harapan terakhirnya untuk bisa melihat dirimu, air mataku jatuh berderai, menyesali kelalaianku dalam memenuhi haknya dan kedurhakaanku terhadapnya.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: